Penciptaan tari Somya terinspirasi dari kisah yang terdapat pada lontar Katuturan Barong Swari yang menceritakan kisah Dewi Uma merasa gelisah karena putranya Dewa Kumara yang masih bayi, lebih dekat kepada ayahnya yaitu Dewa Siwa. Hal ini membuat hati sang Dewi tidak nyaman. Kegelisaannya membawa Dewi Uma larut dalam emosional. Saat Dewa kumara menyusu tubuhnya digoyang-goyangkan, dan tanpa sengaja tubuh bayi itu jatuh dan terluka. Darah yang dikeluar dari luka putranya, tercium harum oleh Dewi Uma dan ia pun menjilatinya. Mengetahui hal ini Dewa Siwa murka, ia menuduh bahwa sang Dewi telah kerasukan serta memiliki sifat keraksasaan. Dewi Uma pun diusir dari Kahyangan. Setelah sekian lama tak bertemu Dewa Siwa merasa kerepotan mengurus putranya seorang diri, ia ingin bertemu dengan istrinya, namun kini mereka telah berbeda alam. Dewa siwa merubah wujudnya menjadi Maha Kala untuk bisa bertemu denga Dewi Uma yang telah berubah menjadi Durga. Pertemuan inilah yang membuat dunia dan khayangan menjadi kepanasan. Inilah awal kisah munculnya Topeng, Telek, Barong dan Wayang. Tarian mengacu pada konsep tradisional dan ditarikan secara berkelompok oleh lima orang penari dengan menggunakan gerak petopengan sebagai sumber gerak. Iringan yang digunakan adalah gamelan gong kebyar. Proses Karya ini digarap dengan mengikuti tiga tahapan yaitu: ngerencana, ngewangun dan memakuh bentuk.
Copyrights © 2024