Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana interaksionisme simbolik yang dilakukan pedagang ternak dalam tradisi Marosok menggunakan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi lapangan dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead dengan beberapa aspek yaitu tindakan, gesture, mind, self dan society. Hasil penelitian ini berupa, tindakan, yaitu kewajiban yang dilakukan pedagang ternak agar dipercaya oleh pembeli yaitu menentukan harga hingga menjamin keabsahan hewan ternak. Gesture (gerak tubuh), pedagang menggunakan gerakan jari ketika bertransaksi jual beli. Simbol signifikan, yang digunakan yaitu bahasa Minangkabau dan simbol-simbol jari untuk menentukan angka. Mind (pikiran), para pedagang yang awalnya didominasi laki-laki mulai menerima pedagang perempuan dalam tradisi Marosok. Self (diri), para pedagang menggunakan atribut sebagai identitas diri berupa sarung, handuk kecil, topi Morris atau peci, tas kecil dan sepatu boot. Society (masyarakat), ada nilai-nilai yang dipertahankan masyarakat Minangkabau agar tradisi Marosok tidak luntur. Implikasi temuan penelitian ini bahwa simbol-simbol yang digunakan pedagang ternak dalam tradisi Marosok menciptakan identitas budaya masyarakat Minangkabau. Aspek-aspek interaksionisme simbolik George Herbert Mead menjadi gambaran komunikasi tradisi Marosok yang diinternalisasi oleh para pedagang ternak untuk mempertahankan budaya Minangkabau.
Copyrights © 2024