Hipertensi emergensi adalah keadaan gawat medis ditandai dengan tekanan darah sistolik > 180 mmHg dan atau diastolik > 120 mmHg atau keduanya, yang terkait dengan tanda atau gejala kerusakan organ akut (yaitu sistem saraf, kardiovaskular, ginjal). Hal ini dapat terjadi sebagai kejadian serebrovaskular akut atau fungsi serebral yang tidak teratur, sindrom koroner akut dengan iskemia atau infark, edema paru akut, atau disfungsi ginjal akut. Angka kejadian krisis HT menurut laporan dari hasil penelitian dekade lalu di negara maju berkisar 2 - 7% dari populasi HT, terutama pada usia 40 - 60 tahun dengan pengobatan yang tidak teratur selama 2 - 10 tahun. Pasien an. MY, 58 tahun dengan riwayat darah tinggi ± 5 tahun ini tiba-tiba mengeluhkan pusing disertai nyeri kepala berdenyut di belakang leher ± 1 hari ini dan tidak berkurang dengan istirahat. Temuan fisik didapatkan keadaan umum baik, composmentis, tekanan darah 200/110 mmhg, nadi 67x/menit, suhu 37,0°C, pernafasan 20x/menit, dan hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan Kadar Glukosa Sewaktu, Glukosa Puasa, Glukosa 2 jam Post Pandrial, HbA1c, Kolesterol Total dan Trigliserida arah . Status gizi pasien adalah Obesitas dimana berat badan pasien 75 kg dan tinggi badan 165 cm. Pasien didiagnosis dengan Hipertensi Emergensi, Diabetes Mellitus Type 2, dan Dislipidemia. Kemudian diberikan tatalaksana farmakologi serta tatalaksana nonfarmakologi. Dilakukan pemantauan di Rumah Sakit selama 6 hari, pasien di pulangkan serta diberikan edukasi terkait dengan Diet DASH, Pemantauan TD dan KGD berkala, Olahraga, Pembatasan konsumsi garam dan Penurunan berat badan.
Copyrights © 2023