ChatGPT menunjukkan kemampuan yang andal dalam berinteraksi seperti manusia dan menciptakan konten yang menyerupai karya manusia. Namun, kekurangan ChatGPT juga terlihat, termasuk keterbatasan akses terhadap data luar, kemungkinan menghasilkan respons yang merugikan serta penuh bias, mencampuradukkan fakta dan fiksi, serta ketidak-konsistenan dalam memberikan saran. Dalam konteks perkuliahan, ChatGPT seringkali dijadikan alat bantu untuk pembelajaran mandiri dan mendukung proses penelitian atau penulisan artikel. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang bagaimana etika penggunaan ChatGPT dalam konteks perkuliahan. Penelitian ini menggunakan metode peninjauan sistematis dengan model PRISMA yang melibatkan tiga langkah, yakni identifikasi, penyaringan, dan inklusi. Hasilnya menegaskan bahwa ChatGPT hanyalah merupakan sebuah alat, maka pengguna manusia harus bertanggung jawab atas penggunaannya dan apa yang dihasilkan olehnya. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk menerapkan penalaran kritis saat memberikan instruksi dan untuk selalu meninjau respons yang dihasilkan secara cermat.
Copyrights © 2023