Budaya minum jamu pada bangsa Indonesia, khususnya Jawa telah berlangsung sejak zaman kuna, yaitu sejak 3.000.000 – 1.000 tahun sebelum Masehi. Hidup nenek moyang Jawa waktu itu tergantung pada alam. Dalam menjaga kesehatannya, mereka memanfaatkan unsur alam yang terdapat dalam dunia flora dan fauna. Caranya unsur-unsur dari dunia flora tumbuh-tumbuhan dan fauna itu diambil, dimanfaatkan secara langsung untuk jamu. Dokumen tertua menjaga kesehatan dengan minum jamu terdapat dalam relief Candi Borobudur, Magelang,Jawa Tengah. Candi ini dibangun pada abad ke-8 oleh Dinasti Sailendra, Kerajaan Mataram Kuna. Setelah mengenal huruf, ramuan jamu didokumentasikan dalam bentuk manuskrip, buku, dikerjakan secara intensif pada abad ke-18-19. Dokumen jamu di antaranya terdapat di Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman. Bahkan usaha produksi jamu sekarang juga masih eksis, di antaranya oleh Jamu Ginggang, Pakualaman, Yogyakarta. Teori klasifikasi jamu diterapkan guna menganalisis berbagai jenis ramuan jamu. Klasifikasi jamu, meliputi: jenis jamu, komposisi bahan, cara membuat, foto produk jamu, khasiat, sampai jamu siap minum diberdayakan sebagai atraksi daya tarik wisata. Analisis komponen daya tarik wisata atas atraksi jamu tersebut disertakan. Metode penelitian dilakukan melalui: wawancara dengan narasumber, pengamatan observasi langsung di lapangan, dan studi pustaka.
Copyrights © 2022