Penelitian ini memiliki latarbelakang adanya perjumpaam dan relasi antara Islam senagai institusi agama (misi Islam) dengan Dayak sebagai sebuah Suku Bangsa, khususnya Suku Dayak Ngaju di Kota Palangka Raya secara khusus dan Suku Dayak umumnya di Kalimantan. Terdapat fenomena yang menarik, dimana Islam dapat diterima di Kalimantan Tengah lebih istimewa dan unik dibandingkan dengan wilayah Kalimantan lainnya. Hadirnya Islam di Kalimantan melalui jalur perkawinan, Pendidikan, perdagangan, dan pendekatan kontekstual yang secara langsung bersentuhan dengan agama dan budaya Dayak tempo dulu dan kini, ternyata mampu menghadirkan perpaduan keduanya yang harmoni dengan Islam yang khas dan Dayak yang khas pula. Hal ini kemudian peneliti sebut sebagai relasi Islam – Dayak yang berjumpa dalam keadaban Islam yang inklusif, pluralis, dan moderat berelasi dengan keadatan Dayak yang terbuka, eksotik dalam bingkai budaya atau falsafah “Huma Betang”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan data diperoleh dan dianalisis dengan teknik wawancara (depth interviews) dan analisis literatur atau kepustakaan. Sumber data utama adalah tokoh agama, tokoh masyarakat dan adat Dayak, serta anggota masyarakat di beberapa wilayah Palangka Raya, data yang diperolah dianalisis secara diskriptif. Hasil penelitian ini memuat fakta relasi Islam – Dayak sebagai berikut: (1) Islam berelasi dengan Dayak dalam perjumpaan melalui perkawinan, Pendidikan, perdagangan, dan pendekatan kontekstual budaya; (2) Relasi Islam – Dayak terjadi secara harmonis, toleransi dan bersinergi dalam nilai-nilai ke-Islaman yang universal (kemanusiaan, perdamaian, keadilan, kesamaan harkat dan martabat) yang berpadu dengan nilai-nilai keadatan Falsafah Huma Betang Dayak; (3) Relasi Islam – Dayak terus menguat dan berupaya menuju arah untuk mengadabkan dan mengadatkan keduanya dengan fokus “menggantang utus” (memajukan suku Dayak).
Copyrights © 2021