Artikel ini mendeskripsikan alasan keturunan Tionghoa mengundang pemuka agama islam ketika syukuran, dan mengulas dasar pelaksanaan tradisi syukuran jika ditinjau dari konsep moderasi beragama keturunan Tionghoa di kota Samarinda. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan triangulasi sumber sebagai uji validitas. Dalam penelitian ini diperoleh bahwa keturunan Tionghoa memilih pemuka agama islam dalam memimpin pembacaan doa dalam acara syukuran adalah menciptakan rasa damai dan tenang dengan harapan terwujudnya toleransi di kota Samarinda. Kerjasama di bidang ekonomi antara pengusaha islam dengan pengusaha keturunan Tionghoa yang terkait dengan Syarikat Islam dan Paguyuban Guang Dong menginisiasi kegiatan lintas agama dimulai dari hal terkecil yang dapat mereka lakukan yaitu melalui tradisi syukuran. Moderasi beragama yang dibangun oleh keturunan Tionghoa adalah toleransi beragama yang berwujud “Pengakuan atas keberadaan pihak lain”. Di negara-negara mayoritas Muslim, sikap moderasi itu minimal meliputi: pengakuan atas keberadaan pihak lain, pemilikan sikap toleran, penghormatan atas perbedaan pendapat, dan tidak memaksakan kehendak dengan cara kekerasan. Hal ini berdasarkan pada ayat-ayat al- Quran, antara lain menghargai kemajemukan dan kemauan berinteraksi (QS. al- Hujurât: 13).
Copyrights © 2022