Meningkatnya jumlah pasien Covid-19 di Rumah Sakit X membuat tenaga kesehatan terutama perawat merasa kewalahan dan kelelahan yang dapat membuat perawat memiliki kepuasan hidup yang rendah karena hanya memiliki sedikit waktu untuk menikmati kehidupan sehari-harinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan burnout sebagai mediator antara work-family conflict dengan subjective well-being selama masa pandemi COVID-19 pada perawat yang telah berkeluarga di Rumah Sakit X. Penelitian ini melibatkan 80 perawat yang telah berkeluarga dan bekerja di Rumah Sakit X dengan menggunakan teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa Satisfaction With Life Scale (SWLS), Positive and Negative Affect Scale (PANAS), Work-Family Conflict Scale (WFCS), dan Burnout Assessment Tool (BAT). Penelitian ini dilakukan secara luring dan daring selama dua minggu. Dari analisis regresi menggunakan process bootstrap ditemukan hasil bahwa work-family conflict dapat memengaruhi burnout (ta = 8.4349; p = 0.0000), burnout dapat memengaruhi subjective well-being (tb = -2.8252; p = 0.0060), dan work-family conflict dapat memengaruhi subjective well-being (tc = -3.4740 >1.96; p = 0.0008). Ketika burnout diposisikan sebagai mediator, pengaruh antara work-family conflict terhadap subjective well-being menjadi tidak signifikan (tc’ = -0.6710; p = 0.5042). Dengan demikian, burnout terbukti berperan sebagai mediator sempurna pada hubungan antara work-family conflict dengan subjective well-being.
Copyrights © 2023