Desa Sukoreno dijuluki sebagai Desa Pancasila karena memiliki keunikan yaitu memiliki lebih dari satu Agama dan satu keyakinan. Agama tersebut terdiri dari Agama Islam, Hindu, Kristen, Katolik dan satu ilmu kebatinan yaitu Aliran Sabto Dharmo. Mayoritas warga Desa Sukoreno menganut Agama Islam. Namun meskipun begitu, mereka tidak pernah mengucilkan kaum minoritas. Meskipun memiliki perbedaan mereka dapat hidup berdampingan dalam satu wilayah. Semua warga saling berinteraksi dengan baik tanpa ada batasan. Hal itulah yang membuat suasana di Desa Sukoreno tentram dan damai. Karena semua warga saling menjaga satu sama lain supaya terhindar dari konflik antar umat beragama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu terjadinya tradisi komunikasi antar umat beragama ini berlangsung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori interaksi simbolik George Herbert Mead dan teori pertukaran sosial Harlod Kelley dengan menggunakan simbol dan hubungan timbal balik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa warga Desa Sukoreno berinteraksi menggunakan simbol tertentu yang mana sudah dipahami oleh seluruh warga sehingga adanya simbol tersebut sebagai informasi untuk menggambarkan sesuatu yang sedang terjadi. Kemudian adanya hubungan timbal balik antar warga membuat kedua belah pihak saling mendapatkan keuntungan dari sesuatu yang telah mereka lakukan.
Copyrights © 2024