Neyolya merupakan tradisi mengunjungi sanak saudara antardesa di Pulau Masela, saling membantu dengan cara barter kebutuhan hidup. Tradisi tersebut bermula dari kondisi geografis dan iklim yang ekstrim sehingga menyebabkan gagal panen sehingga mengakibatkan masyarakat kesulitan mendapatkan pangan. Tulisan ini mengkaji praktik dan transformasi Neyolya saat ini melalui pengumpulan data kualitatif melalui wawancara dengan narasumber dari Desa Lawawang dan desa tetangga yang mempunyai hubungan satu sama lain. Penelitian menunjukkan bagaimana Neyolya berakar pada filosofi hidup masyarakat yang memandang manusia sebagai kekayaan dan kekayaan materi sebagai alat untuk menyatukan dan menghubungkan satu sama lain. Neyolya masih dilakukan oleh sekelompok kecil orang, namun menghilang dengan cepat karena kemajuan teknologi dan infrastruktur serta penggunaan uang. Masyarakat masih ingin mengamalkan Neyolya terutama dengan melibatkan generasi muda melalui akulturasi budaya dan enkulturasi. Hal ini dapat dicapai melalui sistem “tiga batu perapian” di mana desa, gereja, dan sekolah berpartisipasi secara aktif dalam Neyolya. Pembaharuan komoditas untuk pertukaran dapat berkembang dan tidak terbatas pada hal-hal materi saja, namun dapat berkembang mencakup pertukaran ide dan gagasan sehingga tercipta gaya baru Neyolya untuk masa depan Masela yang lebih baik.
Copyrights © 2024