Daging sapi, konsumsi utama masyarakat, menghadapi tingkat konsumsi yang tinggi, terutama dengan kenaikan harga yang mendorong pedagang mencampurkan daging segar dan tidak layak konsumsi demi keuntungan. Meskipun demikian, konsumsi daging sapi yang telah membusuk dapat menimbulkan dampak negatif seperti diare, keracunan, dan muntah, yang diilustrasikan dengan kasus antraks di Yogyakarta. Oleh karena itu, penelitian ini fokus pada deteksi kesegaran daging sapi dengan memanfaatkan parameter warna dan kadar gas amonia (NH3). Proses penilaian melibatkan sensor warna dan sensor gas yang terhubung ke mikrokontroler ESP32S, menggunakan metode klasifikasi Jaringan Saraf Tiruan. Keunggulan metode ini terletak pada kemampuannya menangani kompleksitas data dan pola yang sulit diidentifikasi oleh metode konvensional. Penelitian ini bertujuan mengurangi kerugian dan risiko kesehatan masyarakat akibat konsumsi daging yang tidak layak. Hasil penelitian mencapai tingkat akurasi model 69% dengan menggunakan 3 hidden layer dalam Jaringan Saraf Tiruan. Berdasarkan confusion matrix-nya, didapatkan accuracy sebesar 71%, precision 56.3%, recall 56.3%, dan f1-score 56.3%. Dalam 20 kali pengujian pada ketiga kategori (Segar, Busuk, dan Mix) sistem mencapai keberhasilan sistem dengan nilai rata-rata 87% dengan rata-rata waktu 2 menit untuk daging Segar, 3 menit untuk daging Busuk, dan 3.7 menit untuk daging Mix. Sistem ini dapar beroperasi dengan menyambungkannya ke sumber daya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sistem mampu mendeteksi kualitas daging secara baik.
Copyrights © 2024