Kota Semarang memiliki peran sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah dan pusatĀ berbagai aktivitas kemudian menjadi daya tarik mobilisasi penduduk. Mobilisasi yang terjadi berdapak pada peningkatan jumlah kendaraan khususnya milik pribadi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah melalui Dinas Perhubungan meluncurkan Bus Rapid Transit (BRT) sebagai transportasi public pada 18 September 2009. Seiring dengan pengoperasiannya, kemudian pemerintah meluncurkan feeder bus sebagai angkutan pengumpan. Hal ini diinisiasi dari keinginan masyarakat yang menganggap bahwa BRT tidak dapat menjangkau hingga masuk ke gang-gang. Kemudian apakah feeder bus ini sudah memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka dilakukan analisis tingkat pelayanan dan mutu pelayanan. Hasil penelitian menyatakan bahwa kapasitas armada sebedar 20 orang dengan load factor 25% yang berarti tempat duduk tidak pernah terisi penuh. Nilai headway 12 menit dan waktu tunggu 6 menit. Hal ini menandakan bahwa waktu tunggu yang masih terjangkau. Mutu pelayanan feeder bus menghasilkan bahwa 60% masyarakat tidak mengetahui dimana halte feeder bus, karena hanya ditandai dengan papan signage naik turun BRT. Sebesar 70% penumpang membayar tarif secara tunai dan seluruhnya menyatakan bahwa tarifnya sangat terjangkau. Sebanyak 85% menyatakan bahwa feeder bus sudah memberikan keselamatan dan 95% menyatakan pelayanannya baik. Hanya saja belum dilengkapi dengan fasilitas kelompok difabel
Copyrights © 2023