Mahasiswi difabel tunanetra tidak hanya mengalami hambatan dalam proses penglihatan namun juga memiliki problematika dalam proses perkuliahan dan maupun kehidupan sosial diantaranya permasalahan aksesbilitas, hubungan sosial, komunikasi, kesulitan dalam proses perkuliahan dan pandangan masyarakat sekitar. Hal ini mempengaruhi kondisi psikologis pada individu terutama pada mahasiswi, hal ini terjadi karena perempuan memiliki kerentanan genetik, perubahan hormon yang signifikan, kecenderungan memikirkan sesuatu hal secara berlebihan, dan tekanan dari sisi sosiobudaya. Keselarasan antara proses studi dan penerimaan diri dengan keterbatasan penglihatan menjadi tujuan utama yang terus dipertahankan dan dicapai oleh mahasiswi tunanetra, ditambah dengan berbagai tekanan dan problematika dalam menyelesaikan pendidikan, akan menjadi tantangan dan tekanan tersendiri bagi mahasiswi difabel netra yang dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif diri individu (Subjective Well Being). Tujuan artikel ini ialah untuk mengetahui Subjective Well Being pada mahasiswi tunanetra dan faktor yang memepengaruhi Subjective Well Being pada mahasiswi tunanetra. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini ialah tiga mahasiswi penyandang tunanetra dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswi tunanetra memiliki Subjective Well Being yang ditinjau dari dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, pertumbuhan diri, otonomi, penguasaan lingkungan, dan hubungan positif dengan orang lain. Kata Kunci : Subjective Well Being, Tunanetra
Copyrights © 2023