Keunikan komunikasi peserta kelas dalam proses pembelajaran yang dilatari oleh kondisi masyarakat multikultur, menjadi alasan pentingnya kajian ini dilakukan. Grand teori yang digunakan adalah campur kode Chaer dan Agustina, dan dialek Francis. Data didapatkan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Secara teknis pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Penelitian ini menemukan bahwa interaksi guru dan siswa di kelas XI SMA N 5 Pekanbaru tidak luput dari peristiwa kedwibahasaan sebagai produk budaya. Bahasa yang digunakan peserta kelas dipengaruhi oleh pergeseran nilai sosial masyarakat Indonesia yang mulai menyadari fungsi dan pentingnya peranan pendidikan untuk hidup yang lebih baik. Lebih dari itu, kasus kedwibahasaan disuburkan oleh kondisi masyarakat Pekanbaru yang multikultur sehingga bahasa sebagai produk budaya juga mengalami pergeseran dari bentuk baku bahasa Indonesia menjadi bercorak campuran. Hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan campur kode eksternal (bahasa Inggris), dan campur kode internal (bahasa Minang, bahasa Batak, dan bahasa Betawi), serta dialek Betawi sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakan di kelas XI SMA N 5 Pekanbaru.
Copyrights © 2023