Desa Celuk terkenal karena selama lebih dari 100 tahun menjadi pusat industri perak dan perhiasan Bali, serta telah menjadi destinasi wisata populer bagi wisatawan yang tertarik dengan seni dan kerajinan Bali. Namun, karena beberapa alasan menyebabkan permintaan akan perhiasan Perak di daerah ini menjadi menurun, salah satunya pandemi covid-19. Banyak pengrajin mengalami penurunan penjualan karena berkurangnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke desa, dan kurangnya permintaan dari pasar internasional. Tidak hanya itu, kurangnya pemahaman digitalisasi pada bisnis perak di Desa Celuk dapat menyebabkan pengrajin dan bisnis perak di sana ketinggalan dalam persaingan di era digital saat ini. Beberapa dampak dari kurangnya pemahaman digitalisasi adalah sulit memasarkan produk secara online, penggunaan aplikasi atau perangkat lunak khusus untuk manajemen bisnis yang dapat membantu meningkatkan efisiensi dalam hal pengelolaan stok barang, pembayaran, dan pelacakan pesanan yang sangat berguna untuk pengembangan bisnis para pengrajin perak. Sosialisasi mengenai digitalisasi bisnis menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan para pengrajin tersebut. Tentunya dengan harapan, semakin meningkatnya minat para generasi muda desa Celuk untuk meneruskan bisnis kerajinan perak yang sudah turun temurun dan juga meningkatkan pemahaman mengenai digital marketing bagi para pengrajin perak dalam mengembangkan strategi bisnisnya.
Copyrights © 2023