Sindrom koroner akut (SKA) merupakan penyebab kematian nomor 1 di dunia dan nomor 2 di Indonesia setelah strok. Pengobatan yang tepat dapat menurunkan resiko terjadinya kematian akibat SKA. Antiplatelet, antikoagulan atau fibrinolitik merupakan obat yang digunakan untuk penatalaksanaan SKA. Akan tetapi, sampai saat ini gambaran penggunaan obat pada pasien SKA di Indonesia yang meliputi SKA-NSTEMI dan SKA-STEMI masih terbatas. Selain itu, profil dan penggunaan obat SKA di kota Tasikmalaya masih belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pasien SKA dan pengobatannya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional retrospektif terhadap data rekam medis pasien pada Januari 2020- Desember 2020. Pasien yang masuk kedalam kriteria penelitian berjumlah 78 pasien. Hasil studi menunjukkan bahwa kejadian SKA-STEMI lebih banyak dibandingkan SKA-NSTEMI (RR 4,0986, CI 95% 2.2296-7.5345, p 0,0001), dan banyak terjadi pada usia 40-60 tahun dengan jenis kelamin laki-laki. Gastroesophageal reflux disease (GERD), diabetes melitus dan hipertensi merupakan komorbid terbanyak pada pasien SKA-STEMI, sedangkan hipertensi dan dispepsia merupakan komorbid terbanyak pasien SKA-NSTEMI. Hasil uji hubungan chi square menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara jenis SKA dengan usia, jenis kelamin dan komorbid (p>0,05). Pada profil penggunaan obat, antiplatelet meliputi aspirin dan clopidogrel digunakan pada seluruh pasien SKA, sedangkan antikoagulan fondaparinux lebih banyak digunakan dibandingkan dengan enoxaparin (55 vs 23). SKA-STEMI mendominasi dibandingkan SKA-NSTEMI dengan pengobatan yang digunakan adalah aspirin, clopidogrel, fondaparinux, atau enoxaparin, selain itu usia, jenis kelamin dan komorbid tidak berhubungan dengan jenis SKA.
Copyrights © 2024