Worship reflects the reality of life, raises various themes, is rich in expression and helps empower people to face all conditions wisely, guided by strong values. In today's developments, the emphasis in worship is increasingly narrowing to the themes of blessing, success, abundance, and victory. Meanwhile, the emphasis on suffering, crying, sorrow and despair is very rarely emphasized. Lamentation is one of the deepest expressions of a wounded soul. Each culture has its own unique way of expressing it, both in the form of verbal and non-verbal expressions. In the Old Testament, this expression is manifested, among other things, in the form of psalms of lament. The Psalm of Lamentation is not just expressing the cry to others, but especially to God. The reality of deep suffering and disappointment is a real condition that is unavoidable in life and should also be expressed in worship proportionally. To analyze the use of the Psalms of Lamentation in worship, the researcher used qualitative methods with a literature description approach to explore the using of the Psalms, especially in the Old Testament worship. By using the Psalms of Lamentation, God's people can express their grief in a constructive way, and at the same time guide them to an encounter with God in their struggles. Therefore, the church should also integrate these themes and realities in representative expressions of worship, so that the spirituality of God's people is strengthened in a condition of steadfast soul and remains in unshakable hope in times of sorrow and despair.Ibadah merefleksikan realitas kehidupan yang mengangkat beragam tema, kaya akan ekspresi dan turut memberdayakan umat untuk menghadapi segala kondisi dengan bijaksana dipandu oleh nilai-nilai yang kokoh. Dalam perkembangan masa kini, penekanan dalam ibadah makin menyempit kepada tema berkat, keberhasilan, kelimpahan dan kemenangan. Sementara penekanan tentang penderitaan, tangisan, kedukaan dan keputusasaan sangat jarang ditekankan. Ratapan merupakan salah satu ungkapan hati terdalam dari jiwa yang terluka. Setiap budaya memiliki cara yang khas dalam mengekspresikannya, baik dalam bentuk ungkapan verbal maupun non verbal. Dalam Perjanjian Lama, ekspresi itu antara lain diwujudkan dalam bentuk Mazmur ratapan. Mazmur Ratapan bukanlah sekedar mengungkapkan tangisan itu pada sesama, tetapi terutama kepada Tuhan. Realitas penderitaan dan kekecewaan yang mendalam adalah kondisi nyata yang tak terhindarkan dalam kehidupan, dan seharusnya juga diekspresikan dalam ibadah secara proporsional. Untuk menganalisis penggunaan Mazmur Ratapan dalam ibadah, peneliti memakai metode kualitatif dengan pendekatan deskripsi literatur untuk menelaah penggunaan mazmur tersebut, khususnya di dalam ibadah Perjanjian Lama. Dengan menggunakan Mazmur Ratapan, umat Tuhan dapat mengungkapkan kedukaannya dengan cara yang konstruktif, dan sekaligus menuntun ke dalam perjumpaan dengan Tuhan dalam pergumulannya. Maka, gereja pun seharusnya mengintegrasikan tema dan realitas tersebut dalam ekspresi ibadah yang representatif, sehingga spiritualitas umat Tuhan tetap terpelihara dalam kondisi jiwa yang teguh dan tetap terpelihara dalam pengharapan yang tak tergoyahkan dalam saat kedukaan dan keputusasaan.
Copyrights © 2023