Kertas berkop pada manuskrip kuno digunakan oleh para pangeran Keraton Yogyakarta pada kisaran tahun 1900-1920. Mereka menyalin teks dengan disertai sengkalan (penanda angka tahun yang disamarkan melalui kata dan memiliki makna khusus). Permasalahannya adalah untuk apa mereka memakai kertas berkop dan mengapa disertai sengkalan? Penelitian ini bertujuan menunjukkan fungsi kertas berkop dan makna sengkalan yang ditulis oleh para pangeran pengguna kertas berkop. Adapun pendekatan dan metode yang digunakan adalah filologis dan kodikologis. Melalui penelitian ini diketahui bahwa pengguna kertas berkop adalah para pangeran keturunan Hamengku Buwana VI yang melakukan penyalinan manuskrip pada masa Hamengku Buwana VII. Fungsi kertas berkop adalah sebagai afirmasi kepemilikan melalui penyebutan nama, jabatan,tempat tinggal, dan tahun cetak kertas. Adapun makna sengkalan pada teks yang ditulis di atas kertas berkop milik para pangeran Yogyakarta itu selain sebagai penanda tahun juga untuk menyamarkan kata hati atas peristiwa yang sedang dihadapinya.
Copyrights © 2024