Artikel ini bertujuan menguji bagaimana kebutuhan mufassir dan latar belakang lingkungan sosialnya mempengaruhi cara yang bersangkutan dalam menafsirkan Al-Quran. Sehingga, sebagai pedoman umat manusia, Al-Qur’an telah dipahami secara seragam dalam sejarahnya. Perkembangan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan menuntut cara baru dalam mengkaji Al- Qur’an, sehingga membaca Al-Qur’an menuntut banyak pendekatan. Dengan demikian, artikel ini hendak mengajukan bagaimana keragaman pola penafsiran Al-Qur’an itu dilandasi konteks para mufassir yang beragam dalam membangun pemahaman tertentu tentang Al-Qur’an. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan. Berbagai referensi digunakan terkait tema artikel. Temuan penelitian menunjukkan terdapat beberapa metodologi yang dapat dilakukan dalam membangun basis paradigma memahami Al-Qur’an. Metodologi tradisional menjadi pendekatan paling populer karena pendekatan ini dilakukan berbasis pada keyakinan. Metodologi rasional adalah basis pendekatan paling kontroversial, namun sangat urgen dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Metodologi linguistik menjadi sebuah pendekatan yang mampu menyajikan penjelasan teks Al-Qur’an yang sangat efektif. Metodologi hermeneutika, meskipun diwaspadai banyak pemikir tradisional, menawarkan metode memahami Al-Qur’an secara kontekstual.
Copyrights © 2023