Penelitian ini bertujuan untuk memahami representasi penyebaran disinformasi terkait penghinaan terhadap kepala negara di media massa dan media sosial, dengan fokus pada kasus Nenek Tarwiyah. Kasus ini menjadi fenomena yang menarik karena mencerminkan tantangan dalam mengelola aliran informasi yang valid dan memahami implikasi dari penyebaran disinformasi terhadap stabilitas sosial dan politik. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis Van Dijk untuk menganalisis representasi nenek Tarwiyah di media massa dan media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media massa dan media sosial mengkonstruksi narasi yang berbeda tentang kasus ini. Media massa cenderung framing nenek Tarwiyah sebagai korban, sedangkan media sosial framing nenek Tarwiyah sebagai pelaku penghinaan. Temuan ini menunjukkan bahwa representasi media massa dan media sosial dapat mempengaruhi persepsi publik terhadap kasus ini. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan literasi media masyarakat agar dapat memahami dan mengkritisi informasi yang mereka konsumsi.
Copyrights © 2024