Pemanfaatan QRIS sebagai alat pembayaran digital semakin berkembang di Indonesia, terutama sejak pandemi COVID-19 yang mendorong penggunaan alternatif untuk mengurangi risiko penularan. Meskipun QRIS memiliki potensi besar, faktor-faktor seperti tingkat kemudahan penggunaan, manfaat, waktu, aksesibilitas, dan reputasi masih memengaruhi tingkat adopsi. Dalam konteks ini, metode Technology Acceptance Model (TAM) digunakan sebagai kerangka analisis, dengan penerapan SmartPLS sebagai alat analisis yang memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang perilaku pengguna terhadap QRIS. Bank Indonesia sendiri sedang giat memperluas konektivitas QRIS ke tingkat internasional. Namun, agar promosi QRIS lebih efektif, terutama bagi generasi milenial, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk memahami perspektif mereka serta faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan dan penggunaan QRIS. Melalui pemahaman yang lebih mendalam ini, diharapkan dapat mengembangkan strategi yang lebih tepat guna dalam meningkatkan adopsi dan kepuasan pengguna.
Copyrights © 2024