Salah satu syarat bagi seorang mufassir untuk dapat menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, yaitu harus menguasai qawâ‘id tafsîr , dan untuk dapat memahami qawâ‘id tafsîr diperlukan pemahaman terhadap kaidah-kaidah dasar dalam bahasa Arab, baik itu kaidah nahwu atau sharrâf. Dalam artikel ini penulis secara khusus akan mengkaji lebih dalam mengenai kaidah lafazh kâna dan fi’il mudhâri’ serta bagaimana implikasi dari kaidah tersebut dalam suatu penafsiran terhadap ayat al-Qur’an. Penelitian ini bersifat dekriptif-analitis dengan menggunakan pendekatan kualitatif pustaka, yakni dengan cara menelusuri informasi dari beberapa sumber data tertulis yang berkaitan dengan tema pokok penelitian. Dari penelitian ini penulis berhasil menyimpulkan bahwa kombinasi antara lafazh kâna dan fi’il mudhâri’, menunjukkan suatu pekerjaan atau peristiwa yang telah terjadi sejak dulu atau sejak masa lampau dan peristiwa tersebut terus berlanjut hingga saat ini. Dan kaidah tersebut memiliki implikasi terhadap penafsiran ayat-ayat al-Qur’an.
Copyrights © 2024