Pengkaji al-Qur’an mengakui bahwa muncul keragaman metode penafsiran untuk menginterpretasikan teks al-Qur’an. Adalah linguistik salah satu metode penafsiran yang digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an. Nyatanya kajian linguistik menjadi tahapan dalam penafsiran sebagaimana yang dinyalakan oleh Amīn al-Khūlī dan Naṣr Hāmid Abū Zaid dalam melakukan pembaruan dalam metode penafsiran. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan (library reseach) dengan menggunakan sumber berupa buku, majalah, jurnal atau tulisan yang berkaitan dengan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Amīn al-Khūlī dan Naṣr Hāmid Abū Zaid menjadikan linguistik menjadi pijakan yang utama dalam menemukan penafsirsan teks al-Qur’an, dimana al-Khūlī mendudukan kajian sastra sebagai prioritas pemerolehan makna, yang dalam hal ini kajian linguistik menjadi pijakan dalam interpretasi teks. Sedangkan Naṣr Hāmid Abū Zaid mendudukan linguistik hanya sebagai proses tahapan awal menginterpretasikan teks al-Qur’an. Tahapan selanjutnya masih dibutuhkan pendekatan lain yang menjadi penyelaras interpretasi dengan kondisi masa kini, baik teologi, filsafat, historis maupun sosial dan budaya. Rumusan metode penafsiran mereka berdua bertujuan untuk membebaskan dari unsur subyektifitas penafsir.
Copyrights © 2024