Upacara Babangkongan dilaksanakan masyarakat Desa Surawangi Kabupaten Majalengkapada musim halodo (hujan tidak turun-turun). Masyarakat desa Surawangi percaya bahwadengan melaksanakan upacara Babangkongan, hujan akan turun. Penelitian ini menggunakanmetode kualitatif dengan pendekatan teori simbolisme dari Mircea Eliade yang menekankannilai eksistensial simbolisme, di mana simbol selalu mengarahkan pada suatu situasi manusiaterlibat di dalamnya, juga selalu menjaga hubungan dengan sumber kehidupan yangmelingkunginya. Ketika sawah kekurangan air, mereka melakukan upacara meminta hujanBabangkongan. Upacara dilakukan malam hari dari rumah Kuwu (kepala desa). Diawali denganupacara berdoa bersama yang dipimpin seorang kokolot (tetua desa), kemudian aktor yangberperan sebagai Bangkong (katak) menaiki usungan lalu diarak keliling Desa mengambilalur melawan arah jarum jam yang disebut Ider Naga. Pada saat keliling itu para pengusungmenirukan suara katak yang bersahut-sahutan, beberapa penduduk sudah menunggu arakarakansambil mengguyurkan air dari ember dan wadah lainnya kepada aktor yang berperansebagai Bangkong. Upacara Babangkongan berakhir kembali ketitik berangkat di rumah Kuwu(kepala desa). Kemudian di adakan upacara penutup, upacara Babangkongan selesai. Peniruansuara katak dan penghadiran aktor yang berperan sebagai katak merupakan bentuk simbolismeKatak yang erat hubungannya dengan mendatangkan hujan.Hujan untuk kesuburan sawah.Kata kunci: Babangkongan, katak, simbolisme katak
Copyrights © 2021