AbstrakKonflik Israel-Palestina, salah satu konflik terpanjang dalam sejarah, telah memicu gerakan solidaritas global, termasuk di Indonesia. Penelitian ini menyoroti peran media sosial dalam mendukung gerakan boikot produk-produk yang berafiliasi dengan Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina. Media sosial memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi, membentuk opini publik, dan memobilisasi dukungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan untuk menganalisis literatur terkait peran media sosial dalam gerakan sosial serta teori-teori komunikasi, seperti Determinisme Teknologi dan Uses & Gratifications, yang menjelaskan motivasi individu dalam berpartisipasi dalam boikot. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun gerakan boikot ini memperkuat solidaritas nasional dan mendukung produk lokal, terdapat tantangan signifikan dalam pelaksanaannya, termasuk dampak ekonomi dan politik yang kompleks. Selain itu, gerakan ini juga memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat Indonesia, meskipun kontroversi dan dampak negatif perlu dipertimbangkan. Fatwa MUI tentang boikot produk Israel juga memicu perdebatan di masyarakat, menunjukkan perlunya evaluasi yang cermat terhadap dampaknya. Kesimpulannya, isu boikot produk pro-Israel di Indonesia memerlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan berbagai dimensi sosial, ekonomi, dan politik. AbstractThe Israel-Palestine conflict, one of the longest-standing conflicts in history, has sparked global solidarity movements, including in Indonesia. This study highlights the role of social media in supporting the boycott movement of products affiliated with Israel as a form of solidarity with Palestine. Social media plays a crucial role in disseminating information, shaping public opinion, and mobilizing support. This research employs a qualitative approach through a literature review to analyze the relevant literature on the role of social media in social movements, as well as communication theories such as Technological Determinism and Uses & Gratifications, which explain individuals' motivations for participating in the boycott. The findings indicate that while the boycott movement strengthens national solidarity and supports local products, there are significant challenges in its implementation, including complex economic and political impacts. Additionally, the movement reinforces Pancasila values in Indonesian society, although controversy and negative effects must be considered. The Indonesian Ulema Council (MUI) fatwa on boycotting Israeli products also sparked debates within the public, highlighting the need for careful evaluation of its implications. In conclusion, the issue of boycotting pro-Israeli products in Indonesia requires a holistic approach that considers various social, economic, and political dimensions.
Copyrights © 2024