Keberagamaan waria merupakan perbincangan yang unik untuk dibahas dan tidak akan pernah selesai. Bukan saja karena konstruk sosial yang membuat waria termarjinalkan tapi juga disokong dalil teologi yang menunjukkan laknat Tuhan atas waria. Sehingga justifikasi laku peribadatan yang dilakukan seolah sia-sia karena sejak awal telah menyalahi kodratNya. Namun fakta di lapangan, para waria tidak lah seperti yang dianggapnya kurang baik. Para waria memiliki keberagamaan yang berbeda dengan ekspresinya masing-masing. Untuk mencapai hal itu, penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dan termasuk dalam kategori jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan prespektif teori eksistensialisme Kierkegard yang menyoroti aspek keberagamaan santri waria di Pondok Waria Al-Fatah Yogyakarta sebagai pisau analisis untuk membedah persoalan. Dari penelitian ini terdapat kesimpulan bahwa keberagamaan waria begitu kompleks, khususnya konstruksi sosial yang turut serta membentuk waria sebagai kaum rentan yang termarjinalkan serta didukung dengan doktrin-doktrin teologis yang sering dilekatkan sebagai mahluk yang menyimpang atas ketetapan Tuhan yang mendapat laknat dariNya. Termasuk juga dalam proses pelaksanaan keberagamaan yang dilakukan begitu beragam, ada yang memilih mengenakan mukenah dan beberapa lainnya memilih mengenakan sarung atau celana dengan alasan kenyamanan untuk mencapai kekhusukan demi menghadap sang Pencipta.
Copyrights © 2024