Pemikiran David Hume tentang keterbatasan akal budi dalam menentukan kebenaran dan pengambilan keputusan moral tetap relevan hingga saat ini, terutama di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. Kritik Hume menunjukkan bahwa manusia tidak sepenuhnya dapat mengandalkan rasionalitas untuk memahami kebenaran objektif karena keputusan-keputusan moral sering kali dipengaruhi oleh emosi, kebiasaan, dan persepsi subjektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian literatur dengan metode analisis kritis terhadap karya-karya Hume serta interpretasi kontemporer dalam bidang neuroscience, ekonomi perilaku, dan teknologi. Pembahasan menunjukkan bahwa pengambilan keputusan manusia—baik dalam konteks moral maupun ilmiah—memiliki batas-batas yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh logika rasional. Hal ini sejalan dengan penemuan modern yang mendukung peran emosi dalam proses pengambilan keputusan. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa kritik Hume terhadap rasionalitas murni mengajak kita untuk mempertimbangkan integrasi antara aspek rasional dan emosional dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern. Penelitian ini mengusulkan agar perkembangan teknologi, khususnya dalam kecerdasan buatan, turut memperhatikan dimensi manusiawi yang tidak bisa diabaikan untuk menciptakan sistem yang lebih bijaksana dan inklusif.
Copyrights © 2024