Peningkatan jumlah penduduk di kawasan perkotaan seiring dengan perkembangan ekonomi menyebabkan produksi sampah organik meningkat secara signifikan. Open dumping, atau pembuangan sampah secara terbuka, masih menjadi salah satu metode pengelolaan sampah yang banyak digunakan di kota-kota besar di Indonesia. Metode ini, meskipun mudah dan murah, menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Sampah organik yang dibiarkan menumpuk di tempat pembuangan terbuka tanpa pengelolaan yang baik akan mengalami proses dekomposisi secara anaerobik, yang menghasilkan gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Selain itu, cairan leachate yang dihasilkan dari pembusukan sampah dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari air tanah serta sumber air bersih di sekitarnya. Kondisi ini sangat membahayakan kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pembuangan, terutama di wilayah perkotaan yang padat penduduk. Selain risiko pencemaran air, penumpukan sampah organik di tempat terbuka juga memicu berkembangnya vektor penyakit, seperti lalat dan tikus, yang dapat menyebarkan berbagai penyakit menular. Studi pustaka ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bahaya lingkungan yang ditimbulkan oleh praktik open dumping sampah organik di kawasan perkotaan. Penelitian ini memanfaatkan berbagai literatur dan penelitian sebelumnya yang terkait dengan dampak lingkungan dari pengelolaan sampah organik yang tidak memadai. Berdasarkan kajian literatur yang dilakukan, ditemukan bahwa open dumping sampah organik tidak hanya berdampak pada kualitas udara dan air, tetapi juga memengaruhi ekosistem secara keseluruhan. Kualitas udara menurun akibat emisi gas rumah kaca dan senyawa organik yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah. Polusi udara yang dihasilkan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pernapasan bagi masyarakat, terutama di wilayah perkotaan yang memiliki tingkat polusi tinggi. Di samping itu, pencemaran air akibat leachate yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya dapat mengganggu keseimbangan ekosistem air dan merusak habitat flora dan fauna. Di sisi lain, praktik open dumping juga memberikan dampak negatif terhadap keberlanjutan ekonomi kota. Pengelolaan sampah yang tidak efektif menyebabkan biaya kesehatan meningkat karena tingginya kasus penyakit yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan. Selain itu, tanah yang tercemar oleh leachate memerlukan biaya rehabilitasi yang besar agar bisa kembali berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang lebih berkelanjutan dalam mengelola sampah organik, seperti penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi biogas atau kompos, yang dapat mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir (TPA) dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan kebijakan yang lebih ketat dalam pengelolaan sampah organik, terutama di kawasan perkotaan yang padat penduduk, serta edukasi yang lebih mendalam bagi masyarakat mengenai bahaya lingkungan dari praktik open dumping. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan publik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi akademisi dan praktisi dalam memahami dan mencari solusi yang tepat terhadap masalah pengelolaan sampah organik di perkotaan. Upaya pengelolaan sampah yang lebih baik tidak hanya akan melindungi lingkungan dari degradasi, tetapi juga mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Copyrights © 2023