Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis berdasarkan data TIMSS tahun 2016 yang membuktikan bahwa Indonesia berada pada peringkat 45 dan 48 dari 50 negara dan data PISA tahun 2016 yang berada di level 61, 62, dan 63 dari 69 negara yang ikut serta.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan kemampuan berpikir kritis mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas V dalam pembelajaran menggunakan model PBL (Problem Based Learning) dan model Guided Inquiry. Jenis penelitian yang dilakukan adalah quasi experimental design dengan menggunakan desain Nonequivalent Control Group Design. Sampel pada penelitian ini sebanyak 57 orang. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pretest kelompok eksperimen 1 sebesar 83,2 dan posttest 88,25;rata-rata skor pretest kelompok eksperimen 2 sebesar 80,1 dan posttest 81,4. Hasil uji T menyatakan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak dengan nilai signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini diperkuat dengan rata-rata N Gain pada model Problem Based Learning sebesar 25,6941 yang lebih besar dari model Guided Inquiry dengan rata-rata -10,3314. Hasil membuktikan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas V dengan menggunakan model Problem Based Learning lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan menggunakan model Guided Inquiry pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila.
Copyrights © 2024