Jurnal Orasi
Vol 15, No 2 (2024): Desember 2024

KEKERASAN SIMBOLIK PADA PEREMPUAN DENGAN POSTPARTUM DEPRESSION MELALUI SKRINING EDINBURGH POSTNATAL DEPRESSION SCALE (EPDS)

Ramadhani, Rizky Wulan (Universitas Gunadarma)
Isa, John R.S.P.K.M. (Universitas Gunadarma)
Ritonga, Rajab (Universitas Gunadarma)



Article Info

Publish Date
31 Dec 2024

Abstract

Masyarakat menciptakan konstruksi sosial untuk mengkategorikan perempuan sebagai “perempuan dan ibu yang baik” yang dapat memicu postpartum atau baby blues pada ibu yang baru saja melahirkan. Postpartum blues bisa menjadi depresi pasca melahirkan jika berlangsung lebih dari dua minggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekerasan simbolik yang dialami perempuan yang mengalami postpartum blues melalui skrining Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) dengan menggunakan Masculine Dominance Theory milik Pierre Bordui. Peneliti menggunakan paradigma konstruktivisme dan metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara kepada empat perempuan yang telah melakukan skrining dengan skor EPDS lebih dari 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan postpartum blues mengalami kekerasan simbolik sebelum, saat dan setelah menikah agar masuk dalam kategori “perempuan dan ibu yang baik”. Perempuan dikonstruksikan sebagai perempuan yang baik jika mampu melakukan pekerjaan rumah tangga, taat kepada orang tua dan suami, melahirkan secara normal, menyusui anak dan mengasuh anak dengan baik melalui praktik-praktik kekerasan simbolik yang dilakukan oleh suami, keluarga, mertua, masyarakat dan budaya di sekitarnya. Konstruksi sosial yang memaksa perempuan untuk mengurus pekerjaan domestik serta mengurus anak sendiri menjadi salah satu penyebab postpartum blues. Perempuan menjadi mudah menangis, letih dan gelisah, menarik diri, serta memberikan reaksi negatif terhadap bayi dan keluarga pada satu hingga dua minggu pasca melahirkan.

Copyrights © 2024