Ragam cara sarjana muslim merespon pandangan pemikir orientalis, menunjukkan perhatian terhadap kajian hadis. Artikel ini meneliti gagasan Muṣṭafā al-Sibā’ī dalam karyanya al-Sunnah wa Makānatuhā fī al-Tasyrī’ al-Islamī. Terdapat beberapa fokus yang diungkap dalam artikel ini, yaitu gagasan beliau terhadap sunnah yang sekaligus menjawab statement dari beberapa tokoh (Abu Rayyah, Taufiq Sidqi, dan Ahmad Amin); serta mengungkap wacana kajian hadis sebagai pengembangan gagasan al-Sibā’ī. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dengan sumber kepustakaan (library research). Hasinya diketahui bahwa pentingnya menganalisis historis dalam mengetahui konteks dan ketersambungan sanad (kritik sanad), dan pentingnya integrasi keilmuan dalam menyingkap kebenaran suatu hadis (kritik matan). Maka tidak berhenti memahami gagasannya saja, sehingga perlu adanya pengembangan gagasan, dalam hal ini dapat ditemukan wacana kajian hadis seperti penerapan ma’anil hadis Muṣṭafā al-Sibā’ī, dan kajian historiografi hadis dalam beberapa bidang (ilmu mustalah al-hadis dan ilmu rijal al-hadis). Pengembangan hadis tersebut memberikan sinyal betapa besar kontribusi beliau dalam bidang hadis.
Copyrights © 2024