Latar belakang: Stunting merupakan masalah gizi global yang mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak, serta meningkatkan risiko penyakit di masa depan. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling signifikan di dunia. Di tingkat global, sekitar 22% anak di bawah lima tahun (balita) mengalami stunting. Penyebab utama stunting sangat kompleks, melibatkan faktor gizi yang tidak memadai pada ibu hamil dan balita, sanitasi yang buruk, serta kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui hubungan tinggi badan ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 25- 59 bulan di Posyandu desa Panggungharjo. Metode: Penelitian kuantitatif observasional dengan desain case control. Dilakukan pengukuran variabel terikat yaitu stunting, dan variabel bebas (Tinggi Badan ibu) dicari secara retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah balita usia 25- 59 bulan di Posyandu desa Panggungharjo Sampel menggunakan simple rundom sampling.sebanyak 120 orang yaitu 60 ibu sebagai kelompok kontrol dan 60 ibu sebagai kelompok kasus. Hasil: Hasil uji statistik didapatkan p-value 0,001 dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting. Stunting berpeluang 4,692 kali (95% ci 1,142-20,186) pada balita yang lahir dari ibu dengan tinggi badan kurang dari 145cm dibanding balita yang lahir dari ibu dengan tinggi lebih dari 145cm. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan dan bermakna antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 25-59 bulan.
Copyrights © 2024