Pelecehan seksual saat ini semakin marak terjadi. Sasaran pelaku tidak hanya remaja diatas 20 tahun saja akan tetapi anak yang masih melakukan pendidikan disekolah juga. Tidak hanya itu pelaku pelecehan seksual bahkan tidak peduli latar belakang korban. Di Indonesia sendiri kasus pelecehan pada anak penyandang disabilitas atau dalam kata lain anak berkebutuhan khusus 2 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan anak normal. Kasus terbanyak yaitu sekitar 6,6 juta anak penyandang Tuna Grahita dilecehkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab bahkan ada yang dicabuli gurunya sendiri. Dari kasus pelecehan pada anak tuna grahita ini mengakibatkan anak tersebut mengalami trauma bahkan ada yang sampai bunuh diri karena merasa ketakutan dan merasa bahwa dirinya telah dianiaya. Pelecehan seksual terhadap anak tuna grahita tinggi dikarenakan anak tuna grahita belum memahami betul mengenai edukasi seksual sehingga anak tuna grahita cenderung dapat dimanipulasi oleh pelaku pelecahan seksual. Peran Konselor sangat diperlukan dalam upaya membantu anak Tuna grahita mencapai apa yang diinginkannya dengan memberikan konseling individu dengan pendekatan rasional emotive perilaku. Konseling individu dengan pendekatan rasional emotive perilaku ini dapat memperkuat keinginan diri yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus korban pelecehan ini dalam meraih kebahagiaan yang dia inginkan.
Copyrights © 2024