Total permintaan bawang putih domestik tidak selaras dengan produksi bawang putih nasional sehingga berpengaruh terhadap peningkatan volume impor bawang putih. Penelitian ini memakai metode deskriptif kuantitatif untuk menganalisis posisi serta tingkat ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih di pasar internasional. Analisis data menggunakan ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan), IDR (Import Dependency Ratio) dan DKI (Derajat Keterbukaan Impor) periode tahun 2019 hingga 2023. Hasil penelitian menunjukkan posisi perdagangan bawang putih Indonesia ditunjukkan dengan nilai ISP rata-rata sebesar -0,9 persen. Nilai ini mengindikasikan daya saing bawang putih Indonesia rendah dan cenderung sebagai negara pengimpor. Tingkat ketergantungan impor bawang putih Indonesia tercermin dalam nilai rata-rata IDR sebesar 90,64 persen, sementara nilai rata-rata DKI mencapai 3,18 persen
Copyrights © 2024