Kementerian Agama memproklamasikan moderasi beragama sebagai cara pandang kehidupan religius yang menghindari sikap ekstrim dalam beragama. Fenomena tentang moderasi beragama menjadi bahan penyiaran lewat media sosial, salah satunya TikTok. Aplikasi ini menjadi salah satu alat media sosial yang dimanfaatkan untuk penyiaran religius dengan jenis konten moderasi beragama. Peneliti berargumen bahwa penyiaran konten moderasi beragama menjadi gambaran agama yang hidup (lived religion) di TikTok. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menganalisis konten moderasi beragama sebagai lived religion di TikTok berdasarkan teori Nancy T. Ammerman. Dengan berfokus pada konten dari akun yang menyiarkan moderasi beragama, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data lewat teknik purposive sampling dan menganalisis data berdasarkan content analysis. Peneliti menemukan bahwa Lived Religion pada konten moderasi beragama dalam TikTok lebih menampilkan dua dimensi dalam praktiknya, yaitu estetika dan narasi. Jika estetika mengadakan nilai seni perilaku yang menghidupkan moderasi beragama dengan penjelasan konten yang menarik, maka narasi mempertontonkan perilaku yang bernuansa cerita terkait melakukan tindakan untuk mewujudkan moderasi beragama. Dengan demikian, konten moderasi beragama dalam TikTok membuktikan adanya lived religion dan para pengguna TikTok menampilkan praktik yang moderat.
Copyrights © 2024