Latar Belakang: Hipermobilitas sendi tidak dianggap sebagai penyakit tertentu, melainkan fenomena yang berkaitan dengan sistem muskuloskeletal. Gejala umum pada Generalized Joint Hypermobility (GJH) berupa nyeri kronik, sprain, flat foot, dan gangguan musculoskeletal lain jarang terdiagnosa, namun menjadi salah satu faktor risiko terjadinya Adolescent Idiophatic Skoliosis (AIS). Kondisi hipermobilitas pada anak menimbulkan perubahan postur dan meningkatkan risiko injury saat melakukan aktivitas fisik. Tujuan: Menganalisis hubungan antara hipermobilitas sendi pada anak-anak terhadap kondisi skoliosis dan gangguan musculoskeletal anak-anak usia sekolah dasar Metode: Desain penelitian cross sectional dengan melibatkan 60 responden. Analisis statistik dilakukan dengan SPSS versi 25. Uji Pearson dan Spearman untuk melihat tingkat korelasi antara ke-3 variabel. Peneliti melakukan pemeriksaan hipermobilitas sendi atau GJH menggunakan Beighton score, pemeriksaan kelengkungan tulang belakang menggunakan skoliometer dan pemeriksaan gangguan musculoskeletal menggunakan kuesioner. Hasil: Hasil penelitian didapatkan 26.7% responden mengalami hipermobilitas sendi. Skoliosis kurva tunggal 8.3% responden, serta gangguan musculoskeletal yang dialami adalah nyeri lutut, flat foot, dan sprain lebih dari satu kali. Berdasarkan uji korelasi, tidak terdapat hubungan antara GJH dengan skoliosis (p=0.083). Terdapat hubungan antara GJH dan gangguan muskuloskeletal (p=0.003). Kesimpulan: Dalam penelitian ini dapat diambil Kesimpulan GJH berkorelasi terhadap keluhan sendi, sprain ankle, dan flat foot namun tidak berkorelasi dengan kasus skoliosis pada anak-anak.
Copyrights © 2024