Latar Belakang: Pemeriksaan KOH dari kerokan kulit dapat menunjukkan gambaran mikrobiologis yang beragam. Pemulung yang bekerja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berisiko tinggi mengalami penyakit kulit, termasuk tinea pedis. Jadi, penting untuk memahami hubungan antara gambaran klinis ruam kulit dengan hasil pemeriksaan KOH pada populasi ini. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara gambaran ruam kulit dengan hasil pemeriksaan KOH kerokan kulit pada pemulung di TPA Kota Medan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional terhadap 79 orang pemulung di Kota Medan yang dipilih secara purposive sampling. Pemeriksaan KOH dilakukan untuk mendeteksi adanya infeksi jamur, sementara gambaran klinis ruam kulit dianalisis untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian tinea pedis. Hasil: gambaran klinis makula (nilai P= 0.014) dan squama (nilai P= 0.006) secara signifikan mempengaruhi kejadian tinea pedis pada pemulung di Kota Medan. Gambaran klinis makula memiliki nilai spesifisitas 80.95% yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai sensitivitas 50.00%. Sementara itu, gambaran klinis squama memiliki nilai sensitivitas yang lebih tinggi (51.72%) dibandingkan dengan nilai spesifisitas 14.29%. Kesimpulan: Gambaran klinis makula dan squama dapat saling melengkapi dalam menapis (screening) kejadian tinea pedis saat pemeriksaan fisik. Dengan demikian, pemeriksaan fisik yang mencakup identifikasi makula dan squama dapat meningkatkan akurasi diagnosa tinea pedis sebelum dilakukan pemeriksaan penunjang
Copyrights © 2024