Pulau Ambon sebagai pulau kecil memiliki karakteristik dan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai pengaruh ekologis dibandingkan dengan pulau besar, untuk itu dibutuhkan suatu pola pengelolaan lahan yang tepat. Agroforesrty tradisional (dusung) dapat menjadi solusi dalam pengelolaan lahan/ hutan pada pulau-pulau kecil di Maluku. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan menjelaskan pengelolaan dusung dari aspek ekologi, ekonomi dan sosial-budaya terkait dengan pengelolaan hutan pada pulau-pulau kecil di Maluku. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, dan penentuan lokasi penelitian berdasarkan metode purposive sampling. Sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif.Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur dan komposisi vegetasi dusung di Pulau Ambon terdiri atas tingkat pohon, tiang, sapihan dan semai, dengan jenis vegetasi yang memiliki nilai Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah Eugenia aromatica, Durio zibethinus, Myristica fragrans, Bouea macrophylla, dan Gmelina molucanna. Pola pengelolaan dusung dapat menjadi solusi kelola hutan pada pulau-pulau kecil seperti di Pulau Ambon dan pulau-pulau lainnya di Maluku, karena secara ekologis kondisi vegetasi dusung hampir sama dengan kondisi vegetasi hutan primer. Sedangkan secara ekonomi, pola pengelolaan dusung memberikan kontribusi pendapatan keluarga bagi petani pemilik dusung yang cukup besar (71,75%), dan secara sosial budaya pola dusung telah dipraktekan oleh masyarakat di Maluku dengan penerapan berbagai nilai-nilai kearifan lokal seperti sasi, kewang dan masohi.
Copyrights © 2024