Seiring dengan meningkatnya popularitas pemanfaatan alat-alat kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence) seperti ChatGPT dalam dunia pendidikan yang menjanjikan efisiensi dan pengalaman pembelajaran tanpa hambatan ("frictionless"), muncul pula perspektif kritis yang mempertanyakan dampaknya terhadap proses belajar-mengajar yang sesungguhnya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara teoritis pentingnya peran "friksi" atau hambatan dalam pembelajaran dan mengapa ia merupakan fitur esensial yang tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam konteks pendidikan. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa friksi, yang melibatkan upaya, alokasi waktu, dan penerapan pengetahuan sebelumnya, diperlukan agar pembelajaran yang bermakna dan berkelanjutan dapat terjadi. Melalui tinjauan literatur dari para pakar, kerangka teoritis dari pedagogi dan psikologi kognitif, serta diskusi implikasinya bagi para pendidik, artikel ini mengelaborasi bagaimana pendekatan kritis terhadap literasi AI yang justru menambah friksi dalam PROSIDING Vol.1 No.1 2022 SENTIKJAR 2 . sistem pembelajaran dapat memperkaya dan memperdalam proses belajar, alih-alih menghambatnya. Mempertanyakan dampak AI, menelaah keterbatasannya, mengeksplorasi bias yang terkandung, serta mendiskusikan aspek etisnya merupakan aktivitas yang dapat menstimulasi pemikiran kritis dan reflektif. Guru sebaiknya tidak hanya memburu efisiensi waktu melalui otomatisasi dan meniadakan friksi, melainkan memanfaatkan teknologi secara bijaksana sekaligus memperdalam keterlibatan siswa secara bermakna dalam proses pembelajaran.
Copyrights © 2024