Ruangan terbuka yang tersedia pada fase tanaman menghasilkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas lahan melalui pola tanam tumpangsari salah satunya dengan tanaman jagung. Tanah Inceptisol memiliki kesuburan kimia yang rendah khususnya kandungan P, salah satu upaya untuk meningkatkan kesuburan kimia yaitu dengan mengaplikasikan pupuk hayati seperti bakteri pelarut fosfat (BPF). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji pengaruh BPF dan berbagai dosis pupuk P dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pada pertanaman kelapa sawit fase tanaman menghasilkan 1. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran pada bulan Januari sampai April 2023. Percobaan dilakukan dengan metode rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari tujuh perlakuan dan diulang empat kali. Perlakuan terdiri dari 100% dosis SP-36, 50 kg/ha BPF + 25% dosis SP-36, 50 kg/ha BPF + 50% dosis SP-36, 50 kg/ha BPF + 75% dosis SP-36, 75 kg/ha BPF + 25% dosis SP-36, 75 kg/ha BPF + 50% dosis SP-36, 75 kg/ha BPF + 75% dosis SP-36. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pemberian BPF dan pupuk P berpengaruh terhadap tinggi tanaman, diameter batang, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot pipilan kering 100 biji, bobot per tanaman, bobot per petak, dan bobot per hektar. Dosis 50 kg/ha BPF dan 25% pupuk P merupakan dosis yang paling efisien dan penggunaan BPF dapat mengurangi kebutuhan pupuk P hingga 75%.
Copyrights © 2024