Narasi pengutusan Musa menjadi paradigma penting dalam konteks pemanggilan seseorang untuk mengemban tugas sebagai pendeta. Dalam proses pengutusannya, Musa beberapa kali menyatakan keengganannya terhadap panggilan TUHAN dengan mengemukakan berbagai keterbatasan yang ada dalam dirinya. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang bagi TUHAN untuk tetap mengutus Musa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi berbagai alasan penolakan Musa terhadap pengutusan TUHAN serta menganalisis implikasinya terhadap pemanggilan dan pengutusan pendeta pada masa kini. Ruang lingkup penelitian ini berfokus pada kisah pengutusan Musa sebagai model teologis yang menunjukkan bahwa TUHAN senantiasa memampukan setiap orang yang dipanggil-Nya untuk menjadi pelayan-Nya di masa kini. Secara khusus, penelitian ini menegaskan bahwa TUHAN, melalui kasih dan penyertaan-Nya, akan memampukan para pendeta khususnya dalam konteks HKBP dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka di lingkungan HKBP.
Copyrights © 2024