Kedukaan kaum janda pasca kematian suami yang menimbulkan ragam perubahan dan tantangan hidup dapat dihadapi dengan penuh makna dalam pelayanan gereja yang berperan menjadi saksi kedukaan. Memusatkan tanggung jawab pelayanan pastoral kedukaan janda kepada para pelayan gereja menjadi kurang efektif, seperti kebergantungan pada rohaniawan gereja (pendeta/penatua/diaken), keterbatasan jangka waktu perkunjungan yang berpotensi meninggalkan kaum janda sendirian, dan timbulnya peluang kurangnya pemahaman pelayan terhadap penderitaan janda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka guna mendalami bentuk pelayanan pastoral kedukaan gereja yang dapat berperan menjadi saksi dukacita dan sistem pendukung bagi kaum janda pasca kematian suami. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana gereja dapat mendampingi kedukaan janda secara utuh dan penuh melalui konsep program pelayanan pastoral kedukaan kelompok konseling berbasis terapi Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Penawaran kelompok konseling kedukaan berbasis terapi ACT bagi kaum janda di tengah kehidupan gereja menawarkan konsep pelayanan pastoral Kristen yang berpusat pada kekuatan relasi dalam saling mendukung dan memberdayakan.
Copyrights © 2024