Perbudakan menjadi salah satu fenomena sosial yang telah menghantui peradaban manusia sepanjang sejarah, menghadirkan tantangan moral, etis, dan hukum yang kompleks di berbagai masyarakat. Dalam konteks agama-agama besar, termasuk Islam, perbudakan telah dibahas secara langsung melalui teks-teks suci dan tradisi-tradisi interpretatif yang berkembang. Dalam tulisan ini, akan membahas bagaimana hermeneutika double movement Fazlurrahman dan hermeneutika pembebasan Farid Esack digunakan sebagai model interpretasi ayat budak dalam Al-Qur’an pada masa pewahyuan dan konteks ketika ayat tersebut ditafsirkan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan baik Rahman maupun Esack melihat pentingnya konteks budaya dan sejarah dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, meskipun ada sedikit perbedaan dalam proses penafsirannya. Menurut Rahman, nilai-nilai yang terkandung dari ayat tersebut adalah moralitas yang mengacu pada moralitas vertikal dan moralitas horizontal. Oleh karena itu, semangat pembaruan yang diemban oleh Fazlur Rahman ialah semangat menegakkan keadilan seadil-adilnya tanpa ada ketidaksetaraan dan diskriminasi. Begitu juga dengan Esack perbudakan yang terjadi di zaman sekarang dalam gerakan praksisnya bukan hanya sekedar membebaskan budak dan menjadikannya merdeka. Akan tetapi lebih ke langkah yang lebih progresif yaitu dengan terciptanya sistem sosial yang adil dan egaliter sehingga mampu melindungi manusia dari penindasan. AbstractSlavery is one of the social phenomena that has haunted human civilization throughout history, presenting complex moral, ethical, and legal challenges in various societies. In the context of major religions, including Islam, slavery has been discussed directly through sacred texts and developing interpretive traditions. In this paper, we will discuss how Fazlurrahman's double movement hermeneutics and Farid Esack's liberation hermeneutics are used as models for interpreting the verses about slaves in the Qur'an during the time of revelation and the context in which the verses are interpreted. This study uses a descriptive analytical method. The results of the study show that overall both Rahman and Esack see the importance of cultural and historical context in understanding the verses of the Qur'an, although there are slight differences in the interpretation process. According to Rahman, the values contained in the verses are morality that refers to vertical morality and horizontal morality. Therefore, the spirit of renewal carried by Fazlur Rahman is the spirit of upholding justice as fairly as possible without inequality and discrimination. Likewise with Esack slavery that occurs in the present era in its practical movement is not just freeing slaves and making them independent. But rather to a more progressive step, namely by creating a just and egalitarian social system so that it can protect humans from oppression.
Copyrights © 2024