Pembangunan terowongan di Samarinda merupakan upaya strategis untuk meningkatkan konektivitas, mengurangi kemacetan, dan memperluas aksesibilitas layanan publik, dengan mempertimbangkan aspek teknis, sosial, dan lingkungan. Metode New Austrian Tunneling Method (NATM) diterapkan untuk memanfaatkan kekuatan alami massa batuan sebagai penyangga utama, didukung oleh sistem klasifikasi massa batuan seperti Q-system untuk menentukan jenis penyangga tambahan yang sesuai, mengingat kualitas batuan di lokasi tergolong sedang hingga buruk. Teknologi modern, seperti digitalisasi dan pemantauan menggunakan drone, turut meningkatkan efisiensi konstruksi. Dampak sosial proyek ini meliputi peningkatan mobilitas masyarakat, pengurangan waktu tempuh, dan pemanfaatan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan. Partisipasi aktif masyarakat dalam proses pembangunan memastikan proyek sesuai kebutuhan lokal dan mendapat dukungan komunitas, menjadikan pembangunan ini solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.
Copyrights © 2024