Jumlah penduduk yang terus meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan lahan untuk mendukung aktifitas dan kegiatan penunjang kehidupan. Terbatasnya ketersediaan lahan dan meningkatnya kebutuhan lahan untuk tempat tinggal mendorong terjadinya alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan peruntukkannya. Kondisi daerah penelitian yang telah dilakukan pemotongan lereng, menyebabkan tutupan lahan hilang, material yang tersingkap menjadi tidak stabil karena adanya proses pelapukan akibat sinar matahari dan hujan yang langsung bersinggungan dengan material serta lereng yang miring menyebabkan daerah penelitian rawan longsor atau gerakan massa. Sehingga, diperlukan kajian yang menganalisis tentang kesesuaian lahan sebagai kawasan perumahan dan arahan pengelolaannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan pemetaan, wawancara, uji laboratorium, dan metode matching. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat empat satuan relief yaitu miring landai (3-7%), dataran bergelombang (16-20%), punggungan tersayat tajam bagian bawah (26-55%), dan punggungan tersayat tajam bagian atas (57-125%). Kelas kesesuaian lahan perumahan berdasarkan keempat satuan relief tersebut masuk ke kelas N1 atau tidak sesuai sehingga diperlukan arahan pengelolaan dengan pendekatan teknologi (pembuatan bronjong), pendekatan sosial (sosialisasi), dan pendekatan institusi (pengawsan dan pemeriksaan).
Copyrights © 2024