Penelitian ini ditulis untuk mengkaji nilai religi dalam tradisi lisan Sansana Dayak Ngaju yang keberadaannya sudah mulai susah ditemukan dalam masyarakat. Tulisan ini pula diharapkan mampu membuka ruang dan menumbuhkan peminat kembali untuk mengembangkan kebudayaan Masyarakat Dayak. Adapun nilai religi dalam tradisi lisan Sansana Dayak Ngaju di pandangan sebagai kepercayaan bahwa manusia hidup di dunia hanya sementara di alam bawah (dunia) yang disebut dengan Pantai Danum Kalunen, dan akan kembali lagi kealam asalnya yaitu alam atas atau Lewu Liau atau disebut juga Lewu Tatau Dia Rumping Tulang, Randung Raja Isen Kamalasu. Jadi, konsep ketuhanan orang Dayak Ngaju adalah sang Maha Tunggal, Maha Agung, Maha Mulia, Maha Jujur, Maha Lurus, Maha Kuasa, Maha Suci, Maha Pengasih dan Penyayang Maha Adil, Kekal Abadi, Maha Mendengar, yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk memberikan kehidupan kepada manusia ia adalah Ranying, yang mempunyai kekuatan untuk mencipta (Hatalla). Suku Dayak Ngaju mengakui bahwa di alam ini ada suatu zat yang menguasai dunia dan hidupnya. Dalam usahanya mengenal Tuhan suku Dayak Ngaju mengenal nama-nama Mahatala dan Duwata. Mahatala adalah ilah yang menguasai alam atas (langit, atau alam sesudah mati), dan Duwata adalah ilah yang menguasai bumi alam bawah (dunia, dan kehidupan ini). Menurut pandangan Dayak Ngaju, setiap orang mati adalah Buli Lewu Tatau Dia Rumpung Tulang, Rundung Raja Isen Kamalasu Uhat, yaitu surga, tempat yang kaya raya, sejahtera dan membahagiakan.
Copyrights © 2025