Dominasi Scopus dalam lanskap akademik Indonesia telah menciptakan ketergantungan signifikan terhadap standar global yang sering kali mengabaikan kebutuhan lokal. Artikel ini mengeksplorasi implikasi ketergantungan ini terhadap berbagai aspek akademik, termasuk inovasi lokal, representasi ilmu sosial dan humaniora, serta aksesibilitas akademik, khususnya bagi peneliti dari negara berkembang. Masalah utama yang diidentifikasi mencakup hambatan biaya publikasi, bias linguistik terhadap bahasa Inggris, dan ketimpangan signifikan antara disiplin STEM dan non-STEM dalam hal pendanaan serta pengakuan akademik. Untuk mengatasi tantangan ini, artikel ini mengusulkan penguatan platform pengindeksan lokal seperti Science and Technology Index (SINTA) yang dapat memprioritaskan relevansi lokal sambil tetap mempertahankan standar internasional. Selain itu, adopsi sistem evaluasi hibrida yang mengintegrasikan metrik kuantitatif dan penilaian kualitatif diharapkan dapat mendukung pengakuan penelitian yang relevan secara sosial dan kontekstual. Langkah-langkah ini diperlukan untuk menciptakan ekosistem akademik yang lebih inklusif, adil, dan sejalan dengan kebutuhan serta prioritas nasional.
Copyrights © 2025