Jurnal Teknologi Kedirgantaraan (JTK)
Vol 3 No 1 (2018): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan

Review Strategi Pengembangan MRO di Indonesia

Freddy Franciscus (Unknown)



Article Info

Publish Date
28 Feb 2018

Abstract

Trend pertumbuhan kebutuhan pemeliharaan  pesawat terbang yang ber operasi di Indonesia terus tumbuh sebesar 12.87% per tahun. Kebutuhan belanja pemeliharaan pesawat terbang dalam negeri berdasarkan klaster adalah klaster airframe maintenance (12%), component maintenance (40%), engine maintenance (35%), line maintenance (12%) dan modification (1%). Tahun 2017 biaya belanja untuk pemeliharaan pesawat terbang yang dioperasikan di Indonesia total sekitar US$ 1 Miliar dan hanya bisa diserap oleh MRO dalam negeri sekitar 35% atau sekitar US$ 350 juta. Dimana klaster airframe, line maintenance dan modifikasi dapat menyerap semua kebutuhan yaitu masing-masing 12%, 12% dan 1% total 25%. Sementara klaster Engine dan komponen hanya dapat menyerap masing-masing 5% total 10%. Masih ada 65% peluang yang bisa digarap oleh MRO dalam negeri untuk mengembangkan bisnis bengkel pesawat terbang.Penyebab utama dari penyerapan yang tidak optimal terhadap peluang tersebut adalah kekurangan capability MRO dalam negeri pada  klaster engine dan komponen. Selain itu juga adalah karena kurangnya MRO dalam negeri yang ber standar internasional memiliki sertifikat FAA dan atau EASA. Dalam jangka pendek-menengah perlu meningkatkan capability MRO di klaster engine dan komponen dengan memperhatikan populasi jenis engine dan komponen yang banyak melakukan maintenance/shop visit dan juga meningkatkan standar mutu MRO klaster engine dan komponen dengan mempunyai sertifikat FAA/EASA. Dalam jangka panjang perlu untuk membangun suatu ‘aerospace park’ di suatu bonded area dimana semua kebutuhan pemeliharaan pesawat terbang dan komponen nya dari hulu ke hilir tersedia di tempat tersebut. The growing trend in aircraft maintenance in Indonesia continues to grow by 12.87% per year. The maintenance expenses of domestic aircraft maintenance based on its cluster are airframe maintenance (12%), component maintenance (40%), engine maintenance (35%), line maintenance (12%) and modification (1%).In 2017 the cost of maintenance for aircraft operated in Indonesia totals about US $ 1 billion and can only be absorbed by domestic MRO of about 35% or about US $ 350 million. Where clusters airframe, line maintenance and modifications can absorb the needs of 12%, 12% and 1% respectively, total 25%. While the Engine cluster and component can only absorb 5% each. total 10%. There are still 65% maintenance expenses can not be absorbed by domestic MRO and that the business opportunities that can be worked out by domestic MRO. The main cause of the non-optimal absorption of these opportunities is the lack of domestic MRO capability in the engines and components maintenance. It is also due to domestic MRO lack of having international maintenance certificate such as FAA and/or EASA certificate. In the short term to medium term domestic MRO need to increase the capability of MRO in engines and components maintenance with respect to the population of engine and components types that have a lot of maintenance / shop visit. Also need to improve the quality standard of MRO for engines and components maintenance with having FAA  and/or EASA certificate.In the long term it is necessary to build an aerospace park in a bonded area where all aircraft maintenance requirements and its components from upstream to downstream are available in one location/venue.  

Copyrights © 2018






Journal Info

Abbrev

jtk

Publisher

Subject

Aerospace Engineering Engineering Environmental Science Materials Science & Nanotechnology Transportation

Description

Jurnal Teknologi Kedirgantaraan (JTK) memuat artikel-artikel hasil penelitian dan kajian analitis kritis bidang teknik penerbangan yang belum pernah dipublikasikan pada media lain. Adapun lingkup bahasan meliputi: propulsi, avionik, struktur, material pesawat terbang, pemeliharaan dan operasional ...