Kemampuan koneksi dan penalaran matematis siswa memiliki peran yang sangat penting. Salah satu cara untuk memaksimalkan kemampuan ini adalah dengan memilih model pembelajaran yang tepat dalam pengajaran matematika. Model pembelajaran yang sesuai dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan koneksi dan penalaran matematis mereka. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang cocok untuk meningkatkan kemampuan koneksi dan penalaran matematis siswa. Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan adalah model pembelajaran STEM. Melalui model pembelajaran STEM, diharapkan siswa dapat memecahkan masalah, merancang atau menciptakan hal baru (inovasi), memahami diri sendiri, berpikir logis, dan menguasai teknologi. Model pembelajaran STEM difokuskan pada dunia nyata dan masalah otentik, sehingga siswa mampu merefleksikan proses pemecahan masalah. Dengan menggunakan model pembelajaran STEM, siswa dapat memiliki wawasan yang mendalam, dinamis, dan kreatif, sehingga tercipta generasi yang unggul. Peningkatan penerapan model pembelajaran STEM pada tingkat mahir akan membuat siswa mampu melakukan penyelidikan atau pengembangan inovasi baru, yang pada akhirnya dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kemampuan koneksi dan penalaran matematik peserta didik yang pembelajarannya menggunakan STEM dengan peserta didik yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran langsung di SMPN 1 Cimalaka Kabupaten Sumedang dengan menggunakan metode control group pre test post test. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan metode pembelajaran STEM kurang efektif untuk meningkatkan koneksi dan penalaran matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Cimalaka. Sementara penggunaan metode konvensional learning tidak efektif untuk meningkatkan koneksi dan penalaran matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Cimalaka.
Copyrights © 2024