Dewasa ini Pemerintah Indonesia mulai memberi perhatian yang cukup besar akan kemungkinan adanya bencana yang ditimbulkan akibat runtuhnya suatu bendungan. Tujuan dalam analisis keruntuhan bendungan adalah untuk mengetahui sejauh mana potensi bahaya dan akibat yang dapat ditimbulkan jika terjadi keruntuhan bendungan. Kemungkinan adanya bencana yang ditimbulkan akibat runtuhnya suatu bendungan diakibatkan oleh overtopping dimana air yang melimpas melalui puncak bendungan menyebabkan terjadinya erosi serta longsoran pada tubuh bendungan khususnya pada bendungan tipe urugan tanah. Analisis keruntuhan bendungan meliputi analisis data topografi, hidrologi, serta analisis perhitungan berbagai alternatif pengeluaran debit air dari waduk yang melebihi kapasitas daya tampung, sehingga didapatkan analisis keruntuhan bendungan dalam berbagai alternatif tingkat kerusakan bendungan, dan dapat menentukan klasifikasi tingkat bahayanya. Daerah hilir bendungan Pongkor yang terkena dampak langsung dari banjir akibat runtuhnya bendungan terbagi menjadi 2 zona yaitu kedalaman air 0,5 - 1 m sejauh 150 m dari bendungan dengan perkiraan waktu banjir 5 menit dengan luas 7.96 ha, dan kedalaman air 1 - 1.5 m sejauh 380 m dari bendungan dengan perkiraan waktu banjir 10 menit seluas 3.9 ha. Berdasarkan penentuan klasifikasi daerah bahaya kedalaman banjir, secara umum desa yang terkena dampak termasuk dalam kategori daerah bahaya 2 (0.5 – 2 m)
Copyrights © 2023